
بسم الله
.إنَّ الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و أصحابه ومن والاه ،ولا حول ولاقوة إلا بالله أما بعد
Semua kita telah mengetahui bahwasanya setiap yang memiliki nyawa pasti akan mati, dan itu telah Allah subhaanahu wa ta’ala kabarkan pada banyak ayat didalam Al-Qur’an.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap jiwa (yang bernyawa) pasti merasakan kematian” (QS. Ali ‘Imran: 185 dan ayat-ayat yang lainnya).
Maka dengan ayat inilah para ulama menyebutkan bahwasanya kematian adalah kepastian yang kita tidak bisa menghindarinya.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, dia pasti menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara gaib dan perkara yang tampak, lalu Allah akan memberitakan kepada kalian apa-apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Jumu’ah: 8).
Kematian adalah sebuah kepastian yang kita tidak bisa menghindarinya meskipun kita bersembuyi didalam gedung yang kuat, didalam benteng yang kokoh.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,
أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (QS. An-Nisa: 78).
Setelah kita mengetahui bahwasanya kematian adalah sebuah kepastian yang akan datang, maka perlu diketahui ada 1 pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh umat manusia berkaitan dengan kematian. Yang mana pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sia-sia. Yaitu mereka bertanya “kapan kematian itu akan datang? Kapan kematian itu mendatangi kita?”
Ini adalah pertanyaan yang sia-sia disebabkan sesuatu yang pasti akan terjadi tidak perlu ditanyakan kapan ia akan terjadi. Akan tetapi pertanyaan yang tepat adalah bekal apa yang kita siapkan untuk menyambut kedatangannya?, dalam keadaan apa ketika kita menjumpainya?, apakah husnul khotimah atau su’ul khotimah?.
Oleh karena itu dalam hadits riwayat imam bukhori dan muslim, dari sahabat yang mulia anas bin malik radhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi Muhammad ﷺ ditanya oleh seorang Arab badui,
مَتَى السَّاعَةُ؟
“Kapankah hari kiamat (akan ditegakkan)?”
Ketahuilah, seorang laki-laki badui ini menanyakan tentang hari kiamat yang pasti terjadi sehingga pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sia-sia. Maka nabi ﷺ tidak menjawab hari ini, hari itu. Akan tetapi beliau balik bertanya,
وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟
“Memangnya apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya (hari kiamat)?“
Maka hendaknya bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan bekal yang terbaik untuk negeri akhirat sebelum datangnya kematian tersebut.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata, “Tidak ada waktu bagi seorang mukmin untuk bersantai-santai kecuali ketika dia sudah berjumpa dengan Allah.”
Semoga Allah subhaanahu wa ta’ala memberikan keistiqomahan kepada kita dalam menjalankan ketaatan, dan semoga Allah subhaanahu wa ta’ala mewafatkan kita dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
Baarakallaahu fiikum
✒ Al faqir ilaa maghfiroti rabbihi
![]() |
Ahmad Ghufron Mujib, Lc.Pimpinan Sekolah
|